News & Event

Informasi Kalangan Umum » Penyakit Kulit dan Kelamin » Sifilis

Sifilis

Apa yang dimaksud dengan penyakit sifilis?

Penyakit sifilis merupakan penyakit infeksi seksual menular yang disebabkan oleh bakteri Trepanoma pallidum. Sifilis saat ini lebih banyak ditemukan di negara-negara berkembang dibanding negara maju, dan dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang dan/atau bersifat fatal jika tidak diobati. Secara umum penyakit ini mudah diobati jika masih berada dalam stadium dini.

Sifilis lebih banyak ditemukan pada laki-laki yang melakukan kontak dengan pasangan sejenis, dan jarang ditemukan pada anak-anak. Penyakit ini juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi ke bayinya.

Bagaimana seseorang dapat tertular penyakit sifilis?

Karena sifilis merupakan penyakit infeksi seksual menular, maka infeksi dapat ditularkan melalui kontak seksual secara vaginal, anal, atau oral. Sifilis tidak ditularkan melalui dudukan toilet, pegangan pintu, atau berbagi handuk, karena untuk dapat terinfeksi seseorang harus melakukan kontak langsung dengan orang lain yang terinfeksi.

Ibu yang hamil dan terinfeksi sifilis dapat menularkan infeksi ke bayinya melalui ari-ari. Infeksi pada bayi dapat menyebabkan kelainan serius pada kehamilan dan/atau timbulnya sifilis kongenital.

Sifilis juga ditularkan melalui darah yang terinfeksi, misalnya dengan menerima transfusi darah yang terinfeksi. Meskipun demikian, semua pusat penyimpanan darah telah melakukan skrining terhadap berbagai penyakit, termasuk sifilis dan HIV. Sifilis juga dapat ditularkan ke orang lain dengan berbagi jarum suntik yang telah digunakan oleh penderita sifilis.

Seberapa cepat gejala infeksi sifilis muncul?

Waktu rata-rata antara terjadinya infeksi sifilis dengan munculnya gejala pertama adalah sekitar 21 hari, tetapi dapat berkisar antara 10 – 90 hari. Gejala yang muncul pertama biasanya adalah adalah luka yang tidak sakit di alat kelamin, vagina, anus, atau rektum, tetapi luka juga dapat timbul di bibir atau mulut.

Apakah sifilis dapat dibagi atas tingkatan atau stadium berdasar perjalanan penyakitnya?

Benar, Sifilis dibagi atas 4 stadium, yaitu:

  • Sifilis primer.
    Merupakan stadium paling dini dari penyakit sifilis, yang umumnya terjadi dalam waktu 10 hari – 3 bulan setelah infeksi. Stadium ini umumnya ditandai dengan timbulnya luka terbuka yang tidak sakit di alat kelamin atau pada daerah lain yang menjadi tempat bakteri sifilis menginfeksi.
  • Sifilis sekunder.
    Pada stadium sekunder ini timbul berbagai gejala, dan biasanya berlangsung selama beberapa minggu. Meskipun demikian gejala-gejalanya dapat hilang timbul sampai 2 tahun.
  • Sifilis laten.
    Sifilis laten terjadi setelah gejala-gejala dari sifilis sekunder menghilang, dan stadium ini tidak mempunyai gejala karena itu disebut laten. Stadium ini dapat berlangsung selama beberapa tahun. Pada tahap dini stadium ini yang berlangsung satu tahun atau lebih, infeksi masih dapat ditularkan ke orang lain, tetapi pada tahap lanjut dari stadium ini, atau kira-kira 2 tahun setelah gejala sifilis sekunder hilang infeksi tidak dapat ditularkan lagi ke orang lain.
  • Sifilis tersier.
    Stadium ini merupakan stadium terakhir penyakit sifilis, dan pada stadium ini infeksi dapat mengenai berbagai organ dalam tubuh seperti otak dan jantung, dan juga dapat menyebabkan kematian.
Apa tanda dan gejala penyakit sifilis?

Tanda dan gejala penyakit sifilis tergantung dari stadium penyakitnya.

Sifilis primer

Gejala yang spesifik dari sifilis primer adalah timbulnya luka terbuka kecil, tempat bakteri sifilis masuk ke dalam tubuh. Luka terbuka ini umumnya ditemui di penis pada laki-laki, di vulva (bibir kemaluan) pada perempuan, atau di anus pada laki-laki maupun perempuan. Luka ini biasanya muncul 2 -3 minggu setelah melakukan kontak seksual dengan orang yang terinfeksi, tetapi kadang-kadang baru muncul sampai 3 bulan kemudian.

Luka ini umumnya tidak sakit, berbentuk bundar, mempunyai ukuran diameter kira-kira 0,8 cm, serta keluar cairan bening dari lukanya. Cairan ini sangat menular karena berisi banyak bakteri. Luka dapat menghilang sendiri dalam 6 minggu, tetapi tidak berarti bahwa infeksinya sudah sembuh. Saat timbul luka, kelenjar getah bening di sekitar lipat paha seringkali juga membesar.

Gejala yang tidak spesifik dapat berupa: luka lebih dari satu, luka terasa nyeri/sakit, keluar nanah dari luka, timbul luka di mulut (akibat kontak seksual oral) atau rektum (akibat kontak seksual anal), luka tersembunyi di mulut rahim pada perempuan. Seseorang juga dapat mempunyai gejala yang sangat ringan atau tidak timbul gejala sama sekali. Pada orang yang menderita HIV, infeksi sifilis dapat menyebabkan timbulnya luka dalam jumlah banyak, lebih dalam, dan ukurannya lebih besar.

Sifilis sekunder

Jika luka primer tidak diobati atau tidak disadari, bakteri akan menyebar ke bagian tubuh lain dan timbul gejala sifiis sekunder. Gejalanya cenderung timbul beberapa minggu setelah luka membaik, tetapi juga dapat timbul selagi luka masih ada. Gejala sifilis sekunder dapat bermacam-macam dan berbeda dari satu orang ke orang lainnya, serta bisa juga tidak spesifik.

Gejala sifilis sekunder dapat berupa:

  • Ruam kulit (bercak-bercak merah) merupakan gejala yang umum ditemui pada stadium ini. Ruam kulitnya berwarna agak kegelapan, berbentuk bundar dan berdiameter kira-kira 0,8 cm. Lesi kulit dapat timbul di beberapa tempat di tubuh, atau hanya terbatas di tempat tertentu, tetapi umumnya ditemui di telapak tangan dan telapak kaki. Ruam kulit ini tidak gatal atau sakit.
  • Timbul kutil mirip jengger ayam di sekitar penis pada laki-laki atau bibir kemaluan pada perempuan.
  • Rasa lesu dan letih.
  • Demam ringan dan sakit kepala sering dijumpai.
  • Sakit tenggorokan.
  • Sakit sendi.
  • Kelanjar getah bening di berbagai tempat membengkak (misalnya di lipat paha, ketiak, atau leher).
  • Meskipun jarang dapat timbul kebotakan.
  • Kadang-kadang sekali timbul peradangan di bagian tubuh lain, seperti di hati, mata, otak, atau ginjal.

Ruam kulit dan gejala lain dari sifilis sekunder bisanya membaik sendiri dalam beberapa minggu, tetapi dapat hilang timbul sampai 2 tahun.

Sifilis laten

Setelah gejala sifilis sekunder menghilang, penderita sifilis tidak menunjukkan gejala apapun sampai beberapa tahun. Pada stadium ini, banyak yang mengira penyakitnya sudah sembuh, karena tidak ada gejala apa-apa lagi.

Pada satu tahun pertama atau lebih, sifilis laten dapat menularkan infeksi, tetapi setelah itu tidak dapat menularkan infeksi ke orang lain, tetapi penyakit sifilisnya tetap ada. Jika tidak diobati, bakteri secara perlahan-perlahan dapat merusak berbagai organ dalam tubuh, dan gejalanya berkembang menjadi sifilis tersier.

Sifilis tersier

Sifilis tersier dapat timbul beberapa tahun setelah infeksi sifilis mulai terjadi, dan manifestasi gejalanya kadang-kadang dapat timbul sampai 50 tahun kemudian. Banyak komplikasi yang terjadi secara progresif pada sifilis tersier bersifat serius dan membuat orang merasa benar-benar sakit. Stadium ini tidak dapat menularkan infeksi.

Sifilis tersier dapat menimbulkan komplikasi sebagai berikut:

  • Komplikasi neurologik dan penyakitnya yang timbul disebut neurosifilis. Pada kelainan ini infeksi sifilis sudah mengenai sistem saraf pusat, termasuk otak, saraf tulang belakang, dan selubung sarafnya.
  • Meskipun neurosifilis pada dasarnya dapat timbul pada stadium mana saja, tetapi umumnya terjadi pada tahap lanjut dari penyakit sifilis. Kelainan ini umumnya timbul secara lambat, dan secara perlahan menyebabkan gangguan mental dan fungsi psikik, diserta gangguan suasana hati dan kepribadian.
  • Komplikasi kardiovaskuler. Kelainan disini mengenai jantung dan pembuluh darah, dan paling sering sifilis mengenai pembuluh darah nadi yang keluar dari jantung, yaitu aorta. Peradangan di aorta dapat menyebabkan dinding aorta melemah, sehingga menimbulkan penonjolan dinding aorta (aneurisma). Karena dinding aneurisma umumnya tipis, maka aneurisma dapat pecah dan menimbulkan kematian. Meskipun aneurisma tidak pecah, tetapi dapat menganggu kerja katub jantung, sehingga jantung tidak dapat memompa dengan baik, dan timbul gagal jantung. Jika kelainan ini timbul lebih dini dan akut, maka kelainannya umumnya lebih berat, tetapi rata-rata timbulnya 1 – 10 tahun setelah infeksi yang pertama kali.
    Sekarang kasus neurosifilis lebih jarang ditemukan karena sudah tersedia banyak antibiotika yang efektif, dan sekarang lebih banyak ditemukan pada orang yang juga menderita HIV.
  • Komplikasi gummatosa. Gumma merupakan tumor jinak yang disebabkan oleh peradangan, tidak bersifat kanker, tetapi bersifat kronik dan dapat timbul di bagian tubuh mana saja. Gumma juga dapat tumbuh di tulang rangka dan mengenai sendi-sendi, atau menimbulkan benjolan besar di bawah kulit. Kelainan ini cukup sering ditemukan di kaki, dibawah lutut. Jumlah gumma yang dapat timbul dapat hanya satu saja, atau beberapa, dan ukurannya dapat bervariasi dari satu sampai beberapa cm. Gumma juga dapat menyebabkan nyeri di tulang pada malam hari dan peradangan kronik dapat menimbulkan demam dan anemia (kadar hemoglobin rendah).

Apa yang dimaksud dengan sifilis kongenital?

Infeksi sifilis dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi ke bayinya melalui ari-ari, dan kelainan yang timbul pada bayinya disebut sebagai sifilis kongenital. Sifilis kongenital dibagi atas jenis dini dan lanjut.

Bayi yang terinfeksi dapat lahir tanpa tanda dan gejala penyakit sifilis, tetapi jika tidak diobati bayi bersangkutan dapat mengalami kelainan serius dalam beberapa minggu.

Gejala sifilis kongenital dini umumnya timbul sebelum bayi berusia 2 tahun, dan dapat berupa timbulnya ruam kulit (ruam kulit yang terkelupas di telapak tangan, telapak kaki, dan sekitar mulut dan anus), pembesaran hati dan/atau limpa, kelainan pada foto X-ray, anemia, pembesaran kelanjar getah bening, dan kulit menjadi kuning.

Sifilis kongenital tahap lanjut lebih jarang ditemui, dan gejalanya dapat menyerupai gejala neurosfilis pada orang dewasa. Kelainannya dapat mengenai mata dan sendi, dapat timbul tuli, gumma, dan kelainan gigi. Kelainan ini umumnya ditemukan saat bayi berusia di atas 2 tahun.

Apa akibat yang dapat dialami oleh ibu yang menderita sifilis dan sedang hamil?

Ibu yang sedang hamil dan menderita sifilis dapat mengalami:

  • Keguguran. Ini berarti bahwa janin mati sebelum usia kehamilan 24 minggu.
  • Lahir mati. Janin meninggal saat kehamilan sudah lebih dari 24 minggu.
  • Hidrops. Kelainan ini berupa pembengkakan pada janin disebabkan edema (penumpukan cairan), dan merupakan kelainan serius yang dapat menimbulkan kematian janin.
  • Polihidramnion. Pada kelainan ini terjadi produksi cairan amnion (ketuban) yang berlebihan, dan dapat menimbulkan komplikasi seperti keguguran, plasenta terlepas dari rahim, dan perdarahan pasca –persalinan.
  • Kelahiran prematur. Jika bayi dilahirkan sebelum usia kehamilan 37 minggu.
Bagaimana diagnosis sifilis?

Tes yang dilakukan pada penyakit sifilis paling sering adalah tes darah, karena beberapa saat setelah infeksi, tubuh memproduksi antibodi terhadap sifilis yang dapat dideteksi secara akurat, aman, dan cukup murah.

Dokter ahli atau laboratorium tertentu melakukan diagnosis dengan mengambil sampel dari luka, dan dengan menggunakan mikroskop khusus yang disebut mikroskop lapangan gelap, bakteri sifilis dapat dilihat.

Pada sifilis primer dan sekunder, umumnya tidak ada tes tambahan yang diperlukan. Meskipun demikian, jika ada komplikasi yang mengenai bagian tubuh yang lain, diperlukan tes lanjutan. Tes lain dapat berupa pemeriksaan X-ray dada atau ekokardiogram (pemeriksaan jantung dengan gelombang ultrasonik) pada penyakit sifilis kardiovaskuler. Pemindaian otak ( dengan alat CT [computed tomography] atau MRI [magnetic resonance imaging] kemungkinan diperlukan jika diduga terjadi infeksi di otak.

Karena sifilis yang tidak diobati pada perempuan yang hamil dapat menginfeksi bayinya dan dapat bersifat fatal, maka setiap perempuan hamil harus menjalani pemeriksaan pre-natal dan dilakukan tes terhadap sifilis saat hamil dan bersalin.

Apa hubungan antara sifilis dengan HIV?

Luka sifilis di mulut, vagina, atau penis lebih mudah menularkan dan terkena infeksi HIV. Penderita sifilis yang mempunyai luka terbuka mempunyai kemungkinan 2 - 5 kali lebih besar terkena HIV jika terpapar.

Bagaimana pengobatan sifilis?

Tidak ada satupun obat yang dijual bebas dapat menyembuhkan sifilis, tetapi pemberian antibiotik yang tepat oleh dokter dapat menyembuhkannya. Pengobatan dapat membunuh bakteri sifilis dan mencegah kerusakan lebih lanjut, tetapi tidak dapat memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi.

Seseorang yang sedang diobati untuk sifilis tidak boleh melakukan kontak seksual dengan orang lain sampai luka sifilisnya benar-benar sudah sembuh. Selain itu, pasangan penderita sifilis juga harus diberitahu agar juga menjalani tes atau diberikan pengobatan jika diperlukan.

Beberapa kelainan akibat sifilis tersier tidak dapat disembuhkan sepenuhnya dengan antibiotik, tetapi pemberian antibiotik dapat mencegah memburuknya kelainan yang ada. Kadang-kadang, komplikasi kardiovaskuler tetap dapat memburuk meskipun sudah diberikan antibiotik.

Siapa saja yang perlu menjalani tes untuk sifilis?

Tes untuk sifilis umumnya dilakukan secara rutin pada:

  • Perempuan hamil.
  • Laki-laki yang melakukan kontak seksual dengan sesama jenis.
  • Orang yang menderita HIV.
  • Orang yang mempunyai pasangan yang mempunyai tes positif terhadap sifilis.
Apakah sifilis dapat kambuh atau muncul kembali?

Tes ulangan dianjurkan untuk memastikan bahwa pengobatan benar-benar berhasil. Seseorang yang pernah terkena sifilis tidak membuatnya terlindung dari infeksi sifilis lagi. Bahkan setelah pengobatan yang berhasil, orang masih dapat terkena infeksi lagi. Hanya tes laboratorium yang dapat mengkonfirmasi bahwa seseorang menderita atau bebas dari sifilis.

Luka sifilis dapat tersembunyi di vagina, anus, di bawah kulup, atau mulut, dan tidak diketahui oleh pasangan seksualnya. Setiap orang berisiko terkena sifilis akibat kontak seksual dengan pasangan yang tidak diobati, kecuali pasangannya telah diobati dan tesnya negatif.

Apakah sifilis dapat dicegah?

Jika anda melakukan kontak seksual secara aman dan selalu menggunakan kondom, maka risiko terkena sifilis (atau infeksi seksual menular lainnya) sangat berkurang. Meskipun demikian kondom tidak menjamin proteksi 100%, karena luka sifilis kadang-kadang terjadi di tempat yang tidak terlindungi oleh kondom.

Jika anda menderita sifilis dan sudah diobati, anda masih dapat terkena infeksi sifilis lagi jika melakukan kontak seksual dengan orang yang terinfeksi. Antibodi yang ada di dalam darah seseorang tidak cukup untuk memproteksi dirinya terhadap infeksi sifilis yang lain.

Cara yang pasti untuk mencegah tertular infeksi seksual menular termasuk sifilis adalah tidak melakukan kontak seksual atau melakukan kontak seksual hanya dengan satu pasangan yang sudah dites dan dipastikan tidak terinfeksi.

Penularan infeksi seksual menular termasuk sifilis, tidak dapat dicegah dengan mencuci alat kelamin, banyak kencing, dan/atau membilas alat kelamin setelah kontak seksual. Adanya cairan tidak semestinya yang keluar dari alat kelamin, luka terbuka, atau ruam kulit terutama di lipat paha, harus dianggap sebagai petanda untuk tidak melakukan kontak seksual dan memeriksakan diri segera ke dokter.

Upaya menghindari konsumsi alkohol atau penggunaan obat terlarang membantu mencegah penularan sifilis, karena aktivitas tersebut meningkatkan kemungkinan perilaku seksual berisiko. Penting untuk saling terbuka dengan pasangan mengenai status HIV masing-masing atau riwayat infeksi seksual menular yang pernah diderita, sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan.

Apa yang perlu saya lakukan jika saya menduga terkena sifilis?

Jika anda menduga terkena sifilis atau infeksi seksual menular lainnya, segera periksakan diri ke dokter. Dokter akan memeriksa kelainan anda dan meminta anda melakukan beberapa tes jika diperlukan.

Apabila ingin menyalin mohon sertakan sumber laman !!!